GIVE THANKS IN EVERYTHINGS

Happy Reading ^_^

Pendakian ke Gunung Gede


Pendakian Massal ke Gunung Gede


Pada tanggal 21-29 April 2012, Wanasetya AMG menyelenggarakan pendakian massal ke Gunung Gede-Pangrango.
Pendakian ini tidak hanya untuk anggoa wanasetya saja, namun taruna/i lainnya (yang bukan anggota) juga boleh ikut serta. Kegiatan ini emang rutin dilaksanakan setiap tahun, sekaligus dalam pendakian ini dilangsungkan pelantikan anggota muda Wanasetya AMG untuk menjadi anggota Wanasetya seutuhnya. Disamping itu, dalam pendakian massal ini juga dilaksanakan pemilihan ketua baru Wanasetya AMG.
Berangkat dari kampus pada tanggal 27 April 2012 sekitar pukul 19.00 WIB. Namun sebelumnya para pendaki yang akan berangkat telah berkumpul di basecamp Wanasetya sejak sore untuk mempersiapkan segala apa yang dibutuhkan dalam pendakian sekaligus memastikan tidak ada perlengkapan kelompok maupun pribadi yang tertinggal. Dari basecamp, kita sama-sama menuju kampus dan mendengarkan pengarahan dari panitia serta pembina dari kampus.
Sepanjang perjalanan, para anggota pendakian bercanda dan bersenda gurau membuat suasana menjadi ramai. Tapi aku memaksakan untuk tidur, karena sesuai rencana kita akan langsung jalan sampai pagi, jadi aku ga mau dong ntar jadi ngantuk di jalan. Tapi suara canda mereka membuatku terbangun dan ikut ceria bersama mereka. Hahahah..
Sekitar jam sebelas malam kami tiba di pos pendaftaran. Suhunya sangat dingin dan panitia memberi kesempatan untuk kami ke toilet, makan ataupun minum teh hangat di warung. Sekitar pukul setengah 1 setelah mendaftar, kita yang berjumlah 60 orang dibagi menjadi 6 kelompok. Masing-masing 10 orang. Lalu kita berjalan menuju alun-alun Surya Kencana (Padang Edelwis) per kelompok. Ntah kenapa saat itu aku berasa fit dan semangat untuk berjalan, beda banget sama pendakian sebelumnya di Gunung Salak. Kak Ibnu sebagai danru dalam kelompok kami selalu memotivasi kami untuk tetap semangat dan menanyakan kondisi kami. Kami terus berjalan hingga setelah sekitar ¾ perjalanan, energi ku berasa sudah mulai habis. Namun temen kelompok ku selalu memberi semangat dan mereka (yang udah pernah kesana sebelumnya) selalu mengatakan, “sebentar lagi, sedikit lagi” sehingga akupun berjuang untuk sampai ke tempat tujuan. 
Sekitar pukul setengah 7 pagi, kelompok kami tiba di Padang Edelwis (Surya Kencana). Banyak banget bunga edelwisnya. Jujur, untuk pertama kalinya aku lihat bunga ini. Hehehe.. keindahan padang itu seakan membuat semua rasa jenuh dan capek dalam perjalanan hilang begitu saja. Tapi udara dingin membuat kami benar-benar menggigil. Tapi, itulah sensasinya. Hahahah. Dan, sesuatu banget yah, ada penjual nasi uduk disitu, dengan harga 5000 per bungkus. Dan ada jual gorengannya juga. (semangat banget yah penjualnya sampe bela-belain naik gunung hanya buat jualan). Tapi keberadaannya benar2 mengungtungkan kami, bisa makan tanpa harus masak dulu. Meskipun dengan lauk seadanya, tapi kalo di gunung mah, itu udah nikmat banget.

Setelah puas istirahat dan foto-foto, kamipun menuju lokasi perkemahan yang telah ditetapkan panitia. Lumayan jauh sih, ternyata padanya itu luas banget loh. Setelah tiba di tempat itu, kami langsung beres-beres dan mempersiapkan makanan untuk makan siang. Kami masak perkelompok. Setelah itu, kami istirahat. Ada yang tidur, ada juga yang main bersama. Siangnya kami dipanggil untuk makan siang, dan kami makan perkelompok. Setelah itu, kami ke sungai untuk mencuci peralatan makan dan kemudian kembali pada acara bebas kami. Sorenya aku, Alga, April, Raina, Ayu dan Mbak Ain duduk di tengah padang yang berada diseberang perkemahan kami, setelah sebelumnya kami melakukan aksi kebersihan disitu, yaitu membersihkan sampah di sekitar tempat itu. Itu adalah salah satu program acara pendakian tahun ini. Kami duduk beristirahat di padang itu dan berkhayal, “Andaikan Pd. Betung sesejuk ini”. Sambil menikmati awan yang terasa sangat dekat, dan foto-foto, kami pun bercerita, bercanda dan menenangkan pikiran disitu. Benar-benar terasa menenangkan.
Hari semakin sore dan udara pun menjadi semakin dingin sehingga kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke tenda. Aku setenda dengan mbak Ain dan para senior lainnya. Untuk mengabaikan cuaca yang sangat dingin itu, kami memainkan permainan jari, yang khas diantara para senior tersebut, yang kalah dapat hukuman dong. Tapi sebelumnya kami makan Pop Mie, se cup ber delapan dan bubur kacang hijau sepiring per delapan juga. Meskipun ga cukup mengenyangkan, tapi kami sangat menikmatinya. NIKMAT ... setelah bosen bermain, kami memutuskan untuk tidur, tapi sebelumnya telah diingatkan bagi yang akan dilantik, untuk berkumpul jam setengah 9 malam itu. Pada jam setengah 9, saat yang lainnya sudah istirahat, kami di panggil para kakak senior, dan mereka meminta tolong kami untuk melakukan sesuatu. (bagian dari pra pelantikan, pastinya). Tapi kami menikmatinya kok, meskipun sempat membuat kami ....tiiiiit.....
Besoknya kami (yang kan dilantik) dibangunin subuh-subuh sebelum yang lainnya pada bangun dan disuruh untuk naik ke puncak gunung Gede.  Katanya sih supaya kami sempat melihat sunrise. Baik banget kan seniornya. Dan benar, kami sempat melihat sunrise memskipun hanya sekitar semenit dan ga sempat foto-foto karena kabut saat itu sangat tebal. Aku benar-benar menikmati pemandangan indah yang seakan menyembuhkan semua lelah dan penatku. Aku benar-benar tenang saat itu.

Setelah itu, kami dibariskan dan dilaksanakanlah upacara pelantikan untuk kami di puncak Gunung Gede. Pak Nardi, selaku pembina yang melantik kami tapi sebelumnya telah memberi kata-kata nasihat untuk kami. Setelah itu, para kakak senior menyalam kami dan mengucapkan selamat. Setelah acara itu, mereka menyuruh kami masak, sebagai penerus mereka. Saat itu kami masak roti bakar, ubi rebus, dan mie instan. Tapi ups, kami membuat nasting gosong, dan tanggung jawab kami adalah membersihkannya dong. Setelah selesai masak, kami makan bersama dan kemudian, rombongan lainnya sampai di puncak. Setelah itu kami foto-foto lagi, dan kemudian khusus anggota wanasetya dikumpulkan untuk melakukan pemilihan ketua baru.
Calonnya ada 4 orang, yaitu Kak Deka, kak Samsu, kak Ardin dan kak Fandi. Mata mereka ditutup dengan slayer dan kami memasukkan batu kerikil pada calon pilihan kami. awalnya bingung sih karena mereka itu semua berkompeten, tapi akhirnya kami tetap harus menentukan pilihan. Dan setelah itu dilakukanlah penghitungan batu dan eng..ing..eng..... kak Deka lah yang memperoleh suara terbanyak dan menjadi ketua untuk menggantikan kak Sandy. Sedih sih, karena baru aja dipimpin sama kak Sandy, eh udah mau ganti aja. Tapi seneng juga sih, kak Deka itu kan pendaki yang tangguh dan calon ketua yang bijaksana, menurutku. Kayak kak Sandy.
Setelah itu kami turun dari puncak per kelompok. Jalanannya lumayan curam jadi perlu hati-hati banget. Tapi turun itu, menurutku lebih ringan daripada naik, tapi cukup membuat kaki sakit dan pegal. Kami melewati suatu turunan yang disebut “tanjakan setan”, dikatakan begitu mungkin karena terlalu curam yah. Oiya, kami tuh turun dari jalur Cibodas. Kami singgah di Kandang Badak, dan kemudian masak dan makan disana. Sepanjang perjalanan sejak hari pertama, kami bertemu banyak pendaki lainnya. Begitu juga di Kandang Badak, rame banget. Setelah makan kami kembali melakukan perjalanan menuju air terjun dan kemudian keluar lokasi pendakian. Tapi kelompok kami tidak singgah di air terjun karena sepertinya para anggota sudah mulai bosan dan lelah. Setibanya di bawah, kami mandi dan bersih-bersih di toilet umum dan kemudian menuju bis. Di jalan menuju bis, aku melihat kak Vidi dkk sedang makan di warung. Aku pun ikutan bersama mereka. Setelah makan, aku kak Vidi, Mbak Ain, ditemenin sama kak Didin, kami belanja kaos khas Taman Wisata Gunung Gede-Pangrango. Setela puas jalan-jalan, kami pun kembali ke bis dan melanjutkan perjalanan pulang. Perjalanan pulang tuh beda banget dengan perjalanan saat berangkat. Kalo saat berangkat, anak-anak pada ribut dan berisik banget, saat pulang semuanya pada molor. Mungkin karena udah capek banget yah.
Tapi, meskipun melelahkan, sangat banyak pelajaran berharga yang kudapatkan saat pendakian. Aku lebih mengenal seniorku, lbih dekat dengan mereka dan juga teman-teman seangkatanku. Kami juga belajar hidup apa adanya, mencukupkan diri dengan apa yang ada, dan yang paling penting juga buatku adalah ketika aku sadar bahwa aku bukan cewek selemah yang kubayangkan. Ternyata aku sanggup dan bisa., meskipun gak terlalu tangguh. heheheh.. Selain hal-hal itu, banyak banget yang aku dapatkan, tapi kayaknya ga semua perlu dipublikasikan deh, ntar ga muat.
Itulah pengalaman pendakian massal kami ke Gunung Gede-Pangrango hingga akhirnya kami tiba di Pd. Betung dengan selamat. Sejak saat itu, saya semakin yakin bahwa salah satu hobi saya adalah kegiatan outdoor seperti ini. Lain kali mau lagi dong. Heheh. 


((ditulis tanggal 6 Mei 2012))

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar..